Diduga Mesum, Guru Madrasah Diarak Warga Keliling Desa di Ponorogo - Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan janda beranak tiga diarak berkeliling desa oleh warga. Aksi ini dipicu lantaran keduanya diduga telah berbuat mesum yang mencemarkan nama desa setempat.
Peristiwa ini berawal kala Tuaji guru MI yang sudah beranak dua ini berselingkuh dengan Sulastri seorang janda beranak tiga di depan rumahnya.
Ratusan warga yang mengetahui hal tersebut kemudian mendatangi kantor Balai Desa Beton, kecamatan Siman, Ponorogo, Jawa Timur Minggu (24/7/2011) malam untuk meminta keduanya diusir dari desa mereka.
Massa bahkan sempat hendak menghajar keduanya, namun beruntung petugas dari Polres Ponorogo dengan sigap mengamankan keduanya.
Tuaji diketahui sering menginap di rumah Sulastri dan berbuat mesum sejak sebulan terakhir. Warga yang marah kemudian mengarak keduanya berkeliling desa sebelum akhirnya digelandang ke Balai Desa setempat.
Warga juga mengaku kesal dengan Sulastri yang kerap dipergoki berbuat mesum dengan pria pascaditinggal mati suaminya. Bukannya malah jera janda tiga anak ini justru kembali mengulangi perbuatannya.
Kemarahan warga berhasil diredam setelah petugas dari Polres Ponorogo dan Polsek Siman datang ke lokasi kejadian. Kedua pelaku mesum tersebut kemudian dibawa ke Mapolsek Siman guna menjalani pemeriksaan.
Prihatin!Bayi 24 Jari & Berkelamin Ganda Lahir di Banyumas - Kondisi bayi dari pasangan Sarno Waris (40) dan Ida Maryati (37), warga Desa Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sungguh memprihatinkan. Top artikel lainnya : Ajaib!!!Orang Tua Kulit Hitam, Bayi Kulit Putih dan Terharu, Perbicaraan Bayi Dengan Tuhan Sebelum Lahir Di Dunia Bayi berusia tiga hari dengan berat 3,3 kilogram dan panjang 44 cm ini terlahir dalam kondisi tidak normal. Semua jari kaki dan tangannya, masing-masing memiliki 6 buah jari. Sedangkan pada alat kelamin bayi ini juga terdapat kelainan karena mempunyai dua alat kelamin.
Saat terlahir bayi ini juga memiliki dua buah gigi di bagian bawah. Sementara yang paling mengenaskan adalah, usus bayi ini terlahir dalam kondisi omfalogen, atau usus terburai dalam keadaan terbungkus selaput.
Bayi ini sendiri dilahirkan Ida Maryati melalui pertolongan bidan setempat. Karena kondisinya yang mengenaskan, bayi ini segera dibawa ke Rumah Sakit Margono Sukarjo Purwokerto.
Menurut Ida Maryati, saat bayi masih di dalam kandungan, bidan sudah memberitahukan jika berat badan bayi tidak mengalami kenaikan. Selain itu, Ida Maryati sendiri mengaku sering mengkonsumsi obat-obatan dari warung saat sedang hamil muda. Namun ironisnya, saat itu ia tidak mengetahui jika dirinya hamil lagi.
“Saat hamil muda saya memang sering makan obat pusing kepala seperti paramek, tapi saya tidak tahu jika saya sedang hamil. Saat saya tahu sedang hamil, baru saya hentikan. Ketidaktahuan saya sendiri karena saya sudah 10 tahun tidak hamil karena dulu ikut KB,” ujar Ida Maryati.
Menurut dokter Rumah Sakit Margono Sukarjo, kehamilan seorang ibu yang tidak diketahui dirinya, bisa membahayakan janin anaknya. Apalagi, pola konsumsi makan dan obat yang sembarangan bisa menyebabkan kelainan pada si bayi nantinya.
“Ibu yang mengandung tetapi dirinya tidak tahu sedang hamil, ini sungguh berbahaya bagi si bayi nantinya. Saya menduga saat usia kehamilan 3 bulan inilah si ibu kurang hati-hati terhadap kandungannya,” ujar Qodri Santosa, dokter spesialis anak Rumah Sakit Margono Purwokerto, Kamis (21/7/2011).
Sementara bayi ini sendiri kini terus dirawat secara intensif di ruang Melati Rumah Sakit Margono Purwokerto. Pihak rumah sakit sendiri kini terus menangani serius kondisi bayi ini. Pihak rumah sakit juga sudah menyediakan dokter ahli bedah untuk menangani bayi ini.
“Bayi ini memang mempunyai kelainan dengan enam jari pada semua jari tangan dan kaki, tumbuh gigi di bagian bawah, usus terburai tetapi terbungkus selaput dan kelainan terakhir adalah pada alat kelamin. Setelah nanti ada persetujuan orang tua mereka, bayi ini akan mendapatkan tindakan medis seperti pemotongan pada jari kaki dan tangannya yang kelebihan,” jelas Johny Hendrik, dokter bedah Rumah Sakit Margono Purwokerto.
Sementara orangtua bayi ini sendiri mengaku pasrah dengan kondisi anak ketiganya tersebut. Mereka hanya berharap, pihak rumah sakit tidak membebani biaya untuk tindakan medis anaknya nanti.
ABG Blitar Ini Dipaksa Mabuk lalu Diperkosa 5 Pemuda - Melati (nama samaran), gadis 14 tahun asal Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar menjadi korban perkosan oleh lima pemuda, setelah sebelumnya dicekoki minuman keras. Tak terima dengan kejadian itu, pihak keluarga pun melaporkannya ke aparat kepolisian setempat. Sayangnya, sebelum aparat bergerak, kelima pelaku sudah melarikan diri.
“Kita sudah cek ke rumah yang bersangkutan. Namun semuanya sudah tidak ada,“ ujar Kapolsek Lodoyo Barat AKP Purwadi kepada wartawan, Kamis (22/7/2011).
Informasi yang diperoleh penyidik, tiga orang pelaku diantaranya bernama Amir (21), Bejo (22) dan Kubus (23). Ketiganya tercatat sebagai warga Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan. “Sedangkan identitas dua orang pelaku lainya masih kita telusuri,“ terang Purwadi.
Perbuatan asusila itu terjadi di rumah Abidin (32), warga Desa Plumpungrejo yang merupakan kerabat dari salah satu pelaku.
Awalnya, korban hanya menuruti keinginan pelaku Amir yang mengajaknya berjalan-jalan. Karena alasan capek, Amir mengajak korban untuk mampir ke rumah Abidin. Selain Abidin, di rumah tersebut juga terdapat empat rekannya yang tengah bepesta miras.
Amir mengajak korban ikut pesta bersama rekan-rekannya. “Korban sempat menolak. Namun karena dipaksa, akhirnya ikut juga merasakan miras,“ tutur Purwadi.
Dalam keadaan teler, Amir tiba-tiba mengajak korban berhubungan badan. Karena mabuk berat, korban pun menuruti keinginan Amir. Mengetahui itu, keempat pelaku juga meminta korban untuk melayani secara bergantian. Karena ditolak, dan para pelaku yang sudah dalam kondisi tak bisa menahan diri nekat memaksa korban.
Perkosaan pun terjadi. “Setelah itu para pelaku ini mengantarkan korban pulang. Semoga para pelaku secepatnya tertangkap,” tutupnya.
Beberapa waktu lalu, Indra Azwan (53), warga Jl Genok Watu Barat Gang II/95, Kec Blimbing, Kota Malang, membuat kejutan dengan berjalan kaki ke Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Kini, pria yang menuntut keadilan buat anaknya yang ditabrak oknum polisi itu, membuat kejutan baru. Ia menemukan tujuh bukit di lereng Gunung Semeru yang diduga mengandung logam mulia.
Itu berawal saat ia mempersiapkan diri mengikuti lomba berburu Polda Jatim untuk memperingati HUT Bhayangkara ke-65. Bersama tiga rekannya, yakni Totok, Josyirin, dan Tumin, ia meriset lokasi berburu dengan menjelajahi lereng bagian selatan Semeru, dari arah Kec Dampit, Kab Malang.
“Lomba berburu ini diadakan pada 10-12 Juni, dan pada tanggal 5-7 Juli saya meriset lokasi,” kata Indra saat ditemui di rumahnya, Jumat lalu.
Dalam riset selama 3 hari 3 malam, Indra dkk menyusuri lereng selatan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Pada hari ketiga, mereka memutuskan mengaso di tepi sungai. Saat inilah, ia melihat ada sinar menyala di secuil batu di tebing bukit di pinggir sungai. “Saya pun memungutnya dan membawa pulang. Waktu itu saya iseng, menduganya sebagai emas,” kata Indra.
Sesampainya di rumah, Indra pun menunjukkan temuan itu kepada rekan dan kerabat dekat. Mereka rata-rata menyatakan batu itu mengandung logam mulia. Kemudian, oleh seorang kerabat, Indra dipertemukan dengan staf pertambangan Newmont yang kebetulan singgah di Kota Malang. Staf Newmont itu menyatakan batu itu memang benar mengandung logam, tapi belum tahu logam apa.
Indra pun dikenalkan oleh staf Newmont itu kepada Haji Agung, perwakilan dari PT Aneka Tambang (Antam) Cibadak, Bogor. Nah, sebelum pergi ke Bogor untuk menemui Agung serta meneliti batu itu, Indra dkk pun memutuskan kembali ke lereng selatan gunung setinggi 3.676 mdpl itu. “Kami kembali ke lereng itu untuk membawa sampel batu lebih banyak lagi,” kata Indra.
Berbekal tas ransel, alat pemukul, penyungkit, kamera, serta handycam untuk dokumentasi, mereka ke lokasi temuan. Setelah mengecek sekitaran aliran sungai, mereka terkejut melihat tujuh bukit yang masih perawan yang mengandung logam sejenis.
“Tujuh bukit itu masih perawan, belum terjamah. Dan di sana kami temukan banyak tebing-tebing yang tampak mengandung logam,” kata Indra. Tiga kali Indra dkk mengumpulkan sampel. Hingga akhirnya ia menggotong batu setengah ransel untuk diuji oleh Tim Antam pada 1 Juli.
Menurut penelitian Tim Antam, batu-batu yang diambil dari lereng selatan Semeru itu memang mengandung emas, perak, tembaga, timah hitam, serta uranium. Kemudian, Indra pun kembali ke Malang guna mengecek keberadaan hutan di lereng selatan itu kepada Perhutani. Namun, Indra belum mengabarkan perihal hal ini kepada Perhutani sebelum hasilnya akurat. Andaikata, hutan itu adalah hutan lindung, maka siapa pun tidak berhak mengelolanya, sebaliknya, jika hutan itu adalah hutan produktif, maka negara akan mengelolanya.
“Saya masih mengumpulkan data serta dokumentasi sebelum melaporkannya ke Istana, menemui kepala negara. Karena dalam waktu ke depan, saya berencana melaporkannya ke Istana atas saran Antam,” ungkap Indra.
Keberadaan logam mulia di lereng Semeru, kata Indra dkk, tak ada warga yang mengetahuinya. Pasalnya, lereng itu jauh dari jangkauan penduduk. “Saya yakin, kamilah orang pertama yang sampai di sana dan menemukan logam mulia itu,” imbuh Indra.
Adi Susilo PhD, dosen FMIPA Universitas Brawija (UB), sekaligus pakar geofisika, mengatakan, di daerah pegunungan, apalagi gunung berapi seperti Semeru, memang ada potensi besar kandungan unsur logam mulia di tebing-tebingnya. Endapan-endapan bebatuan di daerah seperti ini, memang seringkali ditemukan sejenis logam yang disebut pirit. Nah, dalam logam pirit itu, setelah mengalami proses oksidasi, logam yang semula berwarna cerah atau silver (menyerupai besi) ini akan berubah menjadi kekuning-kuningan menyerupai emas.
“Proses ini serupa dengan proses pengaratan besi yang cenderung berwarna kuning, seperti emas,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Kepala Jurusan Fisika FMIPA UB.
Di antara logam-logam Pirit itu, keberadaannya selalu disertai dengan adanya logam lainnya, seperti tembaga. Terkait dengan apa yang ditemukan Indra dkk di Semeru, keberadaan logam mulia (emas) di antara pirit dan tembaga besar kemungkinannya, meskipun unsur emas sangat sedikit.
“Jangankan di daerah lereng Semeru, di sekitaran Kec Gedangan, Kab Malang, yang jauh dari pegunungan pun pernah ditemukan emas pada bebatuan, apalagi ini didapati (Indra dkk) di daerah gunung berapi yang masih aktif,” katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan Gunung Lokon di Sulawesi Utara meletus pada Kamis pukul 22.45 WIB dengan lontaran material pijar, pasir dan hujan abu sekitar 1.500 meter. "Telah terjadi letusan besar di Gunung Lokon," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Kamis (14/7/2011) malam.
Sutopo menjelaskan, letusan besar tersebut mengakibatkan kebakaran hutan yang berlokasi di sekeliling Gunung Lokon.
Pada saat ini BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait dari pemerintah daerah setempat sedang melakukan evakuasi di lokasi rawan bencana.
Dia menambahkan sejak tadi pagi pukul 06.00 hingga 12.00 WITA telah tampak asap putih tebal dengan ketinggian sekitar 100 hingga 150 meter.
Dia juga menambahkan dalam beberapa jam terakhir telah terjadi sekitar 25 kali gempa vulkanik dalam dan 30 kali gempa Vulkanik dangkal di Gunung Lokon. Selain itu, terjadi getaran tremor vulkanik dengan amplituda 0,5 hingga 4 milimeter.
Sementara itu Gunung Lokon telah ditetapkan menjadi status Awas sejak Minggu (10/7/2011). BNPB dan pemerintah setempat telah melakukan evakuasi warga secara bertahap.
BNPB juga meminta masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lokon untuk mewaspadai peningkatan aktivitas di Gunung Lokon.
Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pihak Rumah Sakit Mamami menyandera jenazah pasiennya yang sudah meninggal. Hal ini tentu mengundang kemarahan keluarga almarhum. Sambil mencaci maki, beberapa orang mengeluarkan jenazah Dorthia Ruff Suni dari kamar pasien melalui pintu depan RS Mamami.
Mereka terus menghujat dokter dan perawat yang dinilai tak memiliki hati nurani lantaran menahan jenasah terlalu lama di rumah sakit tanpa disuntik formalin. Namun, seorang dokter tak kalah berang. Ia berusaha mencegah mayat Dorthia dibawa pulang keluarganya. Kisruh ini terjadi karena pihak keluarga belum melunasi biaya perawatan Dorthia sebelum meninggal. Dari total tagihan Rp 18 juta, keluarga belum membayar kekurangan sebesar Rp 2,5 juta. Itu sebabnya pihak rumah sakit melarang mereka membawa pulang mayat Dorthia.
Meski sempat tertahan selama beberapa jam di rumah sakit, mayat Dorthia akhirnya bisa dibawa pulang setelah pihak keluarga mendapat pinjaman uang Rp 2,5 juta dari keluarga lainnya
Lukman, 46 Tahun Membawa Jasad Kembarnya - Lukman, seorang lelaki warga Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (10/7/2011) terbaring lemah di kamar isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pangkep. Bapak tujuh anak yang sehari-harinya bekerja sebagai petani ini sudah 46 tahun membawa serta kembar siamnya yang sudah meninggal pada bagian perutnya. Hal tersebut baru diketahui ketika terjadi infeksi pada jaringan perutnya. "Saya memang terlahir sebagai kembar siam. Tapi kembaran saya meninggal sejak kecil. Hanya saya dan sedikit keluarga yang tahun," kata Lukman kepada Kompas.com.
Lukman terlahir dengan membawa kembar siam yang tak sempurna, yang berdempetan dengan perutnya. Ia tak pernah ketahuan karena lelaki ini memang tidak pernah memeriksakan kelainannya itu ke medis atau ke rumah sakit. Dugaan sementara, terjadi pembengkakan pada bagian perut akibat kanker dari persinggungan jaringan antara tubuhnya dengan tubuh saudara kembarnya tersebut.
Direktur RSUD Pangkep Frans Demmanaba mengungkapkan, jaringan sel-sel kembar siam Lukman telah mati atau sudah lama tidak berfungsi. Dari pembusukan kembar siam Lukman yang tidak sempurnah itulah kemudian tumbuh menjadi kanker.
Frans mengatakan, pihaknya sejauh ini sebatas melakukan perawatan luka Lukman pada bagian perutnya. Pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan lebih karena keterbatasan alat medis.
"Secara prosedural, pasien harus kami rujuk ke Makassar yang memiliki alat medis yang lebih lengkap. Tapi pasien dan keluarga belum bersedia dirujuk ke Makassar," ungkapnya.
Kembar siam yang telah meninggal dan terus melengket pada bagian perut Lukman mengakibatkan terganggunya jaringan lain yang berhubungan, khususnya di bagian perut, yang dikhawatirkan bisa menjadi metastase atau penyebaran kanker dari jaringan yang rusak ke jaringan yang normal.
"Jaringan yang mati berjalan terus ke jaringan yang normal karena tidak dilakukan pemisahan. Jika tidak dilakukan pemisahan segera, implikasi terburuknya bisa menyebabkan kematian karena kanker yang terus menjalar. Penanganannya harus kompleks," katanya lagi.
Sementara Mantasia, istri Lukman, mengaku baru mengetahui kalau benjolan di bagian perut suaminya tersebut adalah kembar siam sang suami yang telah meninggal. Sebulan lalu, kata Mantasia, suaminya mengaku kerap merasa kesakitan pada bagian perut, namun selalu menolak seiap kali diajak berobat.
"Kami bukan menolak dirujuk ke Makassar untuk operasi meskipun gratis. Tapi untuk biaya hidup di Makassar selama bapak menjalani perawatan, kami kesulitan," katanya.
Siswi SMA Peserta MOS Meninggal, Karena di Hukum Seniornya, Dijemur di Terik Matahari - Diduga kelelahan usai mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS), seorang siswi meninggal dunia di Rumah Sakit Eka Hospital, Serpong, Tangerang Selatan. Rabu (13/7) pagi. Sehari sebelum meninggal, siswi kelas 1 SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan itu dihukum oleh seniornya lantaran tak membawa perlengkapan yang disuruh seniornya. Jenazah Amanda Putri Lubis,16, putri kedua pasangan suami istri Elfian Lubis dan Anita Nasution sudah dimakamkan keluarganya di TPU Jelupang, Serpong, Tangerang Selatan. Orang tua dari gadis yang bercita-cita ingin menjadi dokter itu hanya bisa pasrah atas kematian Amanda.
Menurut Evi nasution,48, tante korban, mengatakan, sehari sebelum meninggal, Amanda mengaku kelelahan setelah mengikuti hari kedua MOS di SMA Negeri 9 Tangerang Selatan. Terlebih Amanda dihukum oleh senior lantaran tak membawa perlengkapan yang diperintahkan untuk dibawa ke sekolah. Akibatnya, Amanda dihukum dengan dijemur ditengah lapangan sekolah.
“Sebelum meninggal, Amanda mengaku kelelahan usai mengikuti MOS di sekolahnya. Terlebih Amanda dihukum oleh seniornya karena tak membawa perlengkapan,” ungkap Evi.
Ditemuui di rumah duka di Jalan Salfia VI Blok UF nomor 15 Rt 02/03 Kelurahan Rawa Mekar, Kecamatan Serpong orang tua Amanda hanya bisa menangisi kepergian anak bungsunya. Bahkan Elfian,ayah korban tak sanggup menjelaskan peristiwa tersebut ke wartawan. “Orang tua Amanda sedang tidak bisa menjelaskan semuanya ke wartawan. Karena masih berduka,” ujar Evi.
Namun lanjut Evi, pihak keluarga akan mendatangi SMA Negeri 9 Tangerang Selatan untuk mempertanyakan kejadian yang menimpa Amanda. Terlebih, Amanda pulang ke rumah dalam keadaan pucat. Meski kelelahaan, Amanda tetap bersemangat untuk mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa kesekolah. “Amanda sempat ditugaskan untuk membawa barang-barang yang beratnya lebih dari satu kilogram,” ungkapnya.
Namun pada Rabu (13/7) pagi, Amanda yang mengeluh sakit itu kemudian dibawa keluarganya ke RS Eka Hospital, Serpong Tangerang Selatan. Namun tak berselang lama, nyawa Amanda tak dapat tertolong lagi. Mengenai penyakit yang menyebabkan Amanda meninggal dunia, Evi mengaku belum mengatahuinya. Namun selama ini,Amanda tak mempunyai riwayat penyakit yang dideritanya.”Selama hidup Amanda tak mempunyai riwayat penyakit. Saya juga belum tahu penyebab kematian Amanda,” ungkapnya.
Menurut teman-teman Amanda, gadis malang itu sempat dipisahkan oleh seniornya lantaran tak membawa perlengakapan yang diperintahkan kakak kelasnya Selasa (12/7) pagi selama satu jam. “Menurut teman-teman Amanda, saat MOS hari kedua, Amand tidak membawa beberapa tugas yang diperintahkan kakak kelasnya. Akhirnya Amanda dijemur ditengah lapangan selama satu jam,” kata Evi.
Dimata keluarga, Amanda dikenal gadis yang sangat pintar dan rajin sholat. Sejak duduk dibangku SMP 3 Tangerang Selatan dikenal pintar. Amanda sering mendapat peringkat di kelasnya. Tak hanya itu, Amanda juga dikenal sangat rajin salat.
Bahkan sejak kecil, Amanda bercita-cita ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan orang sakit. Namun cita-cita mulianya itu kandas, Tuhan mempunyai rencana lain untuk Amanda.
Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Kota Tangerang Selatan, Neng Nurhemah membantah terjadi kekerasaan dalam MOS yang dilakukan, termasuk tindak kekerasan fisik yang dilakukan terhadap Amanda. Soal dipisahkannya Amanda saat upacara karena tidak membawa perlengkapan yang ditugaskan, Nurhemah mengatakan bukan hanya Amanda yang mengalaminya. Namun semua pelajar baru yang melanggar aturan tersebut, dipisahkan. “Tidak ada kekerasan fisik selama proses MOS berlangsung,”ungkap Nurhemah.
Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Tangerang Selatan itu membantah bahwa kegiatan MOS di sekolahnya itu diisi oleh kegiatan-kegiatan yang membuat peserta kelelahan fisik. Kegiatan MOS yang dilaksanakan tiga hari itu lebih kepada pengenalan terhadap kondisi sekolah baik secara akademik dan non akademik. “Kegiatan MOS lebih tertuju pada pengenalan sekolah. Tidak ada kegiatan yang melelahkan fisik siswanya,” ujarnya.
Udah Jadi Korban Kecelakaan eh..Malah di Penjara - Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah mungkin pepatah yang tepat untuk menggambarkan nasib Ibnu Yunianto. Beserta keluarganya, Ibnu menjadi korban kecelakaan. Namun buntutnya, ia diperiksa polisi dalam kasus dugaan penganiayaan.
Atas kasus tersebut, Ibnu, Kepala Biro Harian Umum Jawa Pos di Jakarta, ini, dijerat pasal 351 ayat (1) tentang penganiayaan yang menyebabkan luka ringan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan. Ibnu sempat ditahan di Mapolsek Ciputat dan lalu dipindahkan ke Mapolres Jakarta Selatan (Jaksel).
Nasib yang menimpa Ibnu bermula saat ia mengendarai sepeda motor bersama istri dan kedua anaknya di Jl Cireundeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (9/7/2011), pukul 14.00 WIB, akhir pekan lalu. Ibnu, yang berjalan dari arah Lebak Bulus, hendak berkunjung ke Restoran Hoka-hoka Bento.
Karena harus menyeberang, sekitar 50 meter sebelum restoran itu, Ibnu melambatkan laju sepeda motor Supra X miliknya dan berhenti di dekat pembatas jalan. Ia dan juga istrinya, Dhian Harnia, memberikan isyarat kepada pengendara lain dari arah berlawanan untuk meminta kesempatan menyeberang. Ibnu pun kembali memutar gas saat kendaraan lain sudah berhenti.
Namun, tanpa disadari, ada sepeda motor Honda Vario yang dikendarai Nina Mahadianti dengan kecepatan tinggi mendahului mobil yang tengah berhenti. Tabrakan pun tak bisa dihindari. Akibat peristiwa itu, Dhian menderita luka-luka dan memar di bahu kiri. Begitu pula dengan kedua anaknya, Ahmad Yusuf (16 bulan) dan Puan (4). Bahkan Puan terlempar ke sebelah kanan dan mukanya menghantam aspal.
Melihat anak dan istrinya kesakitan dan berdarah, Ibnu langsung menghampiri Nina. Karena melihat gelagat Nina hendak melarikan diri, Ibnu melayangkan pukulan ke kepala Nina, yang saat itu masih mengenakan helm full face, sebanyak dua kali.
"Itu bukan dipukul langsung, hanya dijendul (tampol)," ungkap pengacara Jawa Pos, Imam Safii, saat dihubungi detikcom, Senin (12/7/2011).
Singkat cerita, Nina rupanya seorang anggota Polwan di Direktorat Polisi Udara Mabes Polri berpangkat briptu. Hal ini baru disadari Ibnu setelah mengobati luka anaknya di toilet Hoka-hoka Bento dan lalu menghampiri Nina yang bersandar di pagar restoran. Saat itu, Nina sudah melepas helm dan jaket yang dikenakannya.
Menurut Imam, Ibnu meminta maaf dan mengulurkan tangan untuk mengajak berdamai. Namun, niat tersebut tidak ditanggapi oleh Nina yang sibuk mengetik SMS kepada seseorang. Tidak lama kemudian, datang Kanitprovost Direktorat Polisi Udara Mabes Polri Iptu Taufik Saleh dan meminta masalah tersebut diselesaikan secara hukum.
Akhirnya, Nina melaporkan kasus tersebut ke Polsek Ciputat. "Nina akhirnya melaporkan Ibnu dengan kasus pemukulan dan Ibnu langsung diinapkan di Mapolsek Ciputat," ucap Imam."
Kecurigaan warga Komplek TKBM, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, selama ini terhadap seorang lelaki yang kerap masuk ke rumah Ani (24), saat suaminya pergi kerja akhirnya terbukti. Pada Kamis (7/7) malam, warga beramai - ramai mendatangi rumah Ani dan menemukan Ani bersama selingkuhannya, Dody (25) warga Jalan Iliyas, Gang Amal, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan.
Saat penggerebekan, pintu rumah dalam keadaan terkunci.
Warga curiga karena sering melihat Dody datang ke rumah Ani saat suaminya yang bekerja di pelabuhan sedang ke luar kota.
Saat penggerebekan, warga pun menemukan Dody berada di ruang dapur. Dody dan Ani pun akhirnya diarak di sekitar perkampungan itu. Malam itu juga pasangan selingkuh itu dibawa ke Polsek Medan Labuhan.
"Kita hanya mengamankan sementara. Karena tidak ada keberatan dari pihak keluarga suami, jadi permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan," ujar Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, AKP Oktavianus.
51,5% Mahasiswi Bandung Melakukan Hubungan Seks di Rumah Kost - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) melakukan polling di kota Bandung dan hasilnya adalah 44,8% mahasiswi dan juga remaja Kota Bandung sudah pernah melakukan hubungan intim (seks). Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi yang melakukan hubungan seksual tersebut berada di tempat kos. Bagaimana cara mahasiswi tersebut menjadikan rumah kos sebagai tempat prostitusi dan kemudian atas dasar apakah sehingga mereka bisa masuk kedalam budaya Free seks bebas?
Rumah yang jauh dari kampus membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi di Bandung memilih hidup di tempat kos. Dampaknya adalah mereka menjadi mandiri dan akhirnya bisa mengambil keputusan dan tindakan sendiri serta tidak lagi cengeng. Tapi disisi lain, lemahnya kontrol dari pihak orang tua mereka dan juga pemilik rumah kos membuat para mahasiswi tersebut melakukan hubungan seksual pra nikah dikamar-kamar mereka.
Dari 1.000 orang mahasiswa dan polling yang dilakukan oleh LSM Sahara Indonesia dari tahun 2000 sampai 2002, diketahui bahwa tempat yang paling sering mereka melakukan hubungan intim di rumah tempat kos (51,5 %), kemudian menyusul di rumah-rumah pribadi (sekitar 30 %), ada juga di rumah sang cewek (27,3 persen), kemudian dihotel atau wisma (11,2 persen), ditaman luas (2,5 persen), ditempat rekreasi dan bersantai (2,4 persen), seks di ruangan kelas dikampus Bandung (1,3 persen), ada di dalam mobil goyang (0,4 persen) dan lain-lain tak diketahui (0,7 %).
Adanya pola hubungan yang tidak akrab antara pemilik rumah kos dengan mahasiswi membuat kehidupan seksual di tempat kos menjadi sangat bebas, demikian kata Agus Mochtar, Ketua Sahara LSM Indonesia
Agus Mochtar juga menambahkan, bahwa sebanyak ada sebanyak 72,9 persen responden wanita yang mengaku hamil. Dan diantara mereka ada sebanyak 91,5 persen telah pernah melakukan mengeluarkan janin atau aborsi dan jumlahnya ada beberapa kali. Tindakan Aborsi tersebut biasanya menggunakan dukun beranak (94,8 %) dan hanya terdapat 5,2 % aborsi cewek yang dilakukan dengan adanya bantuan petugas paramedic. Selain itu, terdapat 33,2 % (cewek) dan ada 16,8 % (laki-laki) yang mengaku telah menderita penyakit seksual kelamin akibat adanya hubungan Free seks bebas itu.
Yang mengagetkan ternyata para peserta polling tersebut melakukan hubungan seksual tersebut tanpa dipaksa atau suka dan sama suka dan adanya rasa kebutuhan. Dan ada juga yang mengaku aktif melakukan hubungan seksual lebih dari satu orang pasangan.
Kurangnya Pengetahuan Reproduksi
Sangat lemahnya pengawasan orang tua dalam membangun komunikasi dengan sang anak, menurut psikolog Nia R Raihanah Psi seorang peniliti dari Biro Psikologi Salman (Bipsis) kota Bandung. Orang tua hanya berfikir bagaimana mengirimkan uang kuliah kepada mahasiswi tersebut.
Biasanya para mahasiswi itu memasukkan pacar dan mahasiswa ke kamarnya pagi hari dan keluar sekitar jam 9 malam agar tidak diketahui masyarakat sekitar atau pemilik rumah kos.
Menurut Nia pendidikan reproduksi terhadap kawula muda penting dilakukan. Para mahasiswa tersebut rata-rata mempunyai asal daerah dari luar kota Bandung
Tahun 2012 Kereta Gantung Mulai Aktif di Bandung - Mimpi Kota Bandung memiliki cable car atau kereta gantung "Bandung Skybridge" akan segera terwujud. Rencana proyek kereta gantung dibangun akhir tahun 2011 dan ditargetkan akhir tahun 2012 cable car "Bandung Skybridge" sudah mulai beroperasi. Pemrakarsa "Bandung Skybridg", PT Aditya Dharmaputra Persada melalui Presiden Direkturnya, Sandjaya Susilo memaparkan, saat ini pihaknya sudah mengantongi izin prinsip dari Wali Kota Bandung yang dikeluarkan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Selain itu, sudah menemui Dirjen Perkretaapian Departemen Perhubungan dan sudah ada sinyal positif.
"Dirjen meminta untuk awal permulaan cable car digunakan sebagai transportasi wisata," ujar Sandjaya di Pendopo Kota Bandung Jalan Dalem Kaum.
Menurut Sandjaya, pihaknya berani membangun kareta gantung di Kota Bandung karena Kota Bandung menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang sudah memiliki payung hukum tentang perkretaapian. Semua itu terdapat pada Perda No 2/2008 tentang Penyelenggaraan Perhubungan di Kota Bandung. Disisi lain, Bandung dengan struktur geografisnya sangat memungkinkan untuk dibangun kareta gantung.
Sandjaya mengatakan pihaknya sudah menyiapkan lahan dalam proyek ini sebagai lahan parkir dan stasiun pemberangkatan kereta gantung. "Lokasinya di Jalan Pasteur, "ujarnya.
Titik kereta gantung sendiri akan dibangun mulai dari Pasteur, Paris Van Java (PVJ) hingga Sabuga.
Sandjaya mengatakan Modal transportasi kereta gantung sangat efisien, tidak harus membebaskan lahan yang luas, menambah jalan, dan yang paling penting investasinya murah dibandingkan light rail transit (LRT) system atau mass rapid transit (MRT) system.
Pembangunan sistem cable car itu sendiri sama sekali tidak mengandalkan dana APBD, melainkan dari investasi pihak swasta.
Para pendulang emas dari wilayah Banyumas, Jawa Tengah ikut turun ke Sungai Logawa, untuk turut mencari emas. Rata-rata para pendulang emas ini dari luar wilayah kecamatan Karanglewas datang setelah mendengar berita yang menyatakan jika di Sungai Logawa terdapat emas. Para pendulang emas dari wilayah Banyumas, Jawa Tengah ikut turun ke Sungai Logawa, untuk turut mencari emas. Rata-rata para pendulang emas ini dari luar wilayah kecamatan Karanglewas datang setelah mendengar berita yang menyatakan jika di Sungai Logawa terdapat emas.
Para pendulang emas di Banyumas, rupanya punya pendapat berbeda dengan dinas ESDM Kabupaten Banyumas soal emas di Sungai Logawa. Menurut mereka, memang ada emas di sungai itu. Namun, emas itu bukanlah butiran batu keemasan yang dikumpulkan warga melainkan butiran lain yang lebih kecil.
Para pendulang emas dari wilayah Banyumas, Jawa Tengah ikut turun ke Sungai Logawa, untuk turut mencari emas. Rata-rata para pendulang emas ini dari luar wilayah Kecamatan Karanglewas.
Mereka datang setelah mendengar berita yang menyatakan jika di Sungai Logawa terdapat emas. Para pendulang emas ini menyatakan jika di Sungai Logawa memang terdapat emas.
Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan emas dari pasir dan batu yang sempat didulang oleh mereka. Nah, berbeda dengan apa yang selama ini ditemukan oleh warga sekitar, emas yang didapat oleh para pendulang ini bentuknya kecil-kecil, bukan besar seperti peluru senapan angin yang selama ini menggemparkan warga Banyumas.
"Butiran yang berbentuk bulat seperti peluru senapan angin ini memang tidak ada kadar emasnya, saya tidak tahu ini apa, yang jelas ini tidak ada. Tapi kalau yang di pasir ini ada," kata Pari, pendulang emas dari Purwokerto, Sabtu (25/6/2011) kepada detikcom.
Pembuktian mengenai adanya kandungan emas juga diungkapkan oleh Daroji, pendulang emas di sekitar Sungai Tajum, Ajibarang, dia menjelaskan jika di Sungai Logawa memang terdapat emas. Emas yang berada di Sungai Logawa terdapat di pasir dan bebatuan.
Namun untuk mengetahuinya harus melalui proses seperti mendulang, yakni memisahkan antara pasir dan batu setelah sebelumnya diambil dari sungai. Kemudian, pasir diayak menggunakan air hingga nantinya akan terlihat pasir yang berwarna kekuningan.
"Ini 100 persen emas, setelah kita pisahkan antara pasir dan batu akan terlihat kekuningan, lalu kita kumpulkan. Setelah banyak kita berikan air raksa. Tuh kan butiran-butiran kuning yang tadinya terpisah langsung menyatu, ini benar emas," jelasnya.
Dia menambahkan, untuk mencari emas di sungai itu tidaklah mudah. Butiran-butiran yang banyak ditemukan warga itu bukan emas, tapi 'pyrite'.
"Tidak mudah mencari emas, dalam sehari saja rata-rata para pendulang emas hanya bisa mendapatkan sekitar 100 mili, itu jika cara mencarinya seperti saya. Untuk 100 mili saja hanya dihargai Rp 22.000," ungkapnya.
Puluhan orang mengamuk dan menyegel SD No. 31 Mirring di Kecamatan Binunang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Jumat (24/6/2011). Alasannya, sekolah itu belum melunasi utang senilai Rp 38 juta. Massa yang emosional juga mengeluarkan semua bangku dari ruang kelas. Para guru yang sedang mempersiapkan kenaikan kelas dan pembagian rapor untuk Sabtu (25/6/2011) tak bisa berbuat banyak. Mereka memilih memulangkan siswa sebelum jam pelajaran usai
Massa marah karena Muhammad Ilyas, mantan Kepala SD No 31, itu belum melunasi utang bahan bangunan dan upah buruh yang totalnya mencapai Rp 38 juta. Salah seorang di antara mereka bahkan menantang Ilyas berduel.
"Kami sudah bosan mengadu ke mana-mana, melaporkan ke polisi, dinas pendidikan, namun tidak ada tindak lanjut," ujar Syarifuddin Leppa, seorang pengusaha bahan bangunan yang bergabung dengan massa.
Ilyas sendiri sudah tidak lagi bertugas di sekolah itu. Dia sudah dipindahtugaskan ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Binuang sejak tahun 2010.
Massa akhirnya menemui Saifuddin, pengawas sekolah SD No 031. "Aktivitas sekolah jelas terganggu, tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Saya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk membicarakan masalah ini.," ujar Saifuddin.
Massa bertekad menyegel sekolah itu hingga tuntutan mereka dipenuhi, yakni utang bahan bangunan dan upah mereka dibayar.
Ribuan ikan di Danau Batur, Kintamani, Bangli, mati misterius. Sampai saat ini belum bisa diketahui penyebab tewasnya ikan jenis mujair dan nila yang sebagian adalah peliharaan petani keramba itu.
Menurut Jro Saba, warga Desa Songan yang berada di tepi danau, kejadian itu sudah berlangsung sejak tiga hari lalu. “Kali ini sangat banyak. Jumlahnya bisa mencapai jutaan,” katanya.
Bahkan akibat kematian itu, warna air danau tampak berubah keputihan seperti air cucian beras. Kejadian semacam itu pernah terjadi pada November 2007 dan awal Juli 2008. “Kami tidak tahu penyebabnya,” ujarnya.
Hanya dia pernah mendapat penjelasan, kejadian itu kemungkinan karena naiknya kandungan belerang dalam air.
Danau itu sendiri memang masih ada kaitannya dengan keberadaan Gunung Batur yang berada di sebelahnya dan termasuk sebagai gunung berapi dengan status aktif. Danau itu merupakan bentukan dari letusan kaldera gunung purba pada 25 ribu tahun silam.
Pihak Badan Lingkungan Hidup Bali telah menurunkan tim untuk menyelidiki kejadian tersebut. Kepala UPT Laboratorium Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Gede Suarjana, mengatakan, kematian memang bisa disebabkan belerang tapi bisa juga karena kandungan sulfur.
Selain itu, ada kemungkinan disebabkan oleh keberadaan alga putih di Danau Batur. Dalam kondisi normal, alga putih dapat menjadi pakan bagi ikan-ikan. “Tapi kalau ada perubahan suhu di mana suhu semakin panas, alga putih itu akan mengeluarkan racun,” paparnya.
Ribuan Kera di Gunungkidul Jadi Preman - Kera jadi preman? Itulah yang terjadi, serangan kera ekor panjang telah merusak puluhan hektar tanaman di Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta sejak dua pekan terakhir merepotkan petani. Bahkan sejumlah ternak kambing pun turut menjadi korban sasaran amukan kera tersebut.
“Hampir tiap hari ada serangan kera ekor panjang, biasanya lebih banyak pada tanaman kacang jagung, dan ketela” terang Camat Tepus, Suyatna (18/6/2011)
Serangan terjadi di tiga desa, yakni, Tepus, Sidoharjao, dan Purwodadi. Akibat serangan kera, petani rugi puluhan juta rupiah. Untuk menghindari serangan, warga menggunakan peralatan sederhana seperti jaring dan mengusir secara manual.
“Baru tahun ini serangan yang begitu parah dan membunuh empat kambing, tahun sebelumnya belum separah ini. Kemungkinan akibat di atas bukit sudah tidak ada makanan dan air,” imbuhnya.
Terpisah, Peraih Kalpataru, Sudarli yang juga warga Purwodadi Tepus mengaku pernah melakukan konservasi terhadap kera ekor panjang, dan ditemukan populasinya meningkat sehingga saat ini terjadi serangan yang besar.
“Saat ini sedikitnya 6.000 ekor kera jenis ekor panjang yang berusia mencapai 10 tahun. Kera tersebut memiliki ciri tinggi 40 cm dan panjang ekornya antara 30 hingga 40 cm,”ujarnya
Menurutnya untuk mengatasi serangan kera ekor panjang harus dilakukan melalui pengendalian. Karena itu dibutuhkan sedikitnya 5.000 pohon jambu kluthuk (jambu biji) untuk ditanam di sepanjang pantai di Tepus, agar kera beralih memakan buah jambu dan meninggalkan menyerang tanaman petani. Pohon jambu biji dinilai menjadi alternatif karena dapat berbuah pada setiap musim.
“Membunuh bukan cara yang efektif untuk mengusir kera, kita harus memiliki rasa perikemanusiaan. Biasanya kalau kita serang dengan membasmi, mereka juga akan menyerang dengan lebih besar lagi, itu yang harus diperhatikan,” terangnya.
Selain di Tepus, kera ekor panjang juga menyerang kecamatan Saptosari, Semin dan Paliyan. Akantetapi intensitas serangan lebih besar di tepus karena masih banyak kawasan perbukitan dengan rerimbunan pohon.